Sebuah momen istimewa untuk merayakan kekayaan budaya, mempererat persaudaraan, dan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Mari bersama hadir dan ambil bagian dalam semangat kebersamaan, gotong royong, serta kebanggaan sebagai masyarakat Bengkayang yang berbudaya dan berakar kuat pada tradisi.
A special moment to celebrate cultural richness, strengthen brotherhood, and preserve ancestral heritage so it continues to thrive amid the changing times.
Let us come together and take part in the spirit of unity, mutual cooperation, and pride as the people of Bengkayang who are rich in culture and deeply rooted in tradition.
Bengkayang – Pemerintah Kabupaten Bengkayang bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Joglo Budaya Jawa di Taman Sekayok Damai Raya (SDR), Kamis (23/04/2026).
Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M., didampingi Wakil Bupati Drs. H. Syamsul Rizal, menyampaikan bahwa rumah joglo ini akan menjadi pusat pelestarian budaya Jawa sekaligus simbol kerukunan antar etnis di Bengkayang.
“Ini bukti nyata bahwa Kabupaten Bengkayang menghormati seluruh budaya yang ada. Rumah Joglo akan berdiri berdampingan dengan budaya lainnya dikabupaten Bengkayang,” ujar Bupati.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, tokoh masyarakat Jawa yang ada di Kabupaten Bengkayang. (Diskominfo Bengkayang/MR/RT)
Bengkayang – Masyarakat adat Rangkang, Kabupaten Bengkayang, menggelar tradisi Gawai Ngate’ Kaja’ Pade’ sebagai bentuk ucapan syukur kepada Jubata (Tuhan) atas hasil panen padi tahun ini. Kegiatan yang berlangsung sukses ini menjadi ajang kebersamaan dan pelestarian budaya leluhur, Senin (20/04/2026).
Warga Rangkang Gelar Gawai Ngate’ Kaja’ Pade’, Wujud Syukur atas Panen Raya Bengkayang – Masyarakat adat Rangkang, Kabupaten Bengkayang, menggelar tradisi Gawai Ngate’ Kaja’ Pade’ sebagai bentuk ucapan syukur kepada Jubata (Tuhan) atas hasil panen padi tahun ini. Kegiatan yang berlangsung sukses ini menjadi ajang kebersamaan dan pelestarian budaya leluhur, Senin (20/04/2026). Acara yang digelar di lokasi pusat kegiatan adat tersebut turut dihadiri oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M. Dalam sambutannya, Bupati mengapresiasi semangat masyarakat dalam menjaga kearifan lokal sekaligus mensyukuri berkah panen. “Tradisi ini bukan hanya ritual, tetapi juga wujud rasa syukur dan gotong royong yang harus terus kita jaga,” ujarnya. Gawai berlangsung khidmat dan diramaikan dengan tarian adat, doa syukur bersama, serta santapan hasil bumi. Kegiatan ini sekaligus menjadi perekat sosial dan penguatan identitas budaya di tengah modernisasi. (Diskominfo Bengkayang/MR/RT) @Sebastianus Darwis
Acara yang digelar di lokasi pusat kegiatan adat tersebut turut dihadiri oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M. Dalam sambutannya, Bupati mengapresiasi semangat masyarakat dalam menjaga kearifan lokal sekaligus mensyukuri berkah panen. “Tradisi ini bukan hanya ritual, tetapi juga wujud rasa syukur dan gotong royong yang harus terus kita jaga,” ujarnya.
Gawai berlangsung khidmat dan diramaikan dengan tarian adat, doa syukur bersama, serta santapan hasil bumi. Kegiatan ini sekaligus menjadi perekat sosial dan penguatan identitas budaya di tengah modernisasi. (Diskominfo Bengkayang/MR/RT)
Bengkayang – Masyarakat adat Rangkang, Kabupaten Bengkayang, menggelar tradisi Gawai Ngate’ Kaja’ Pade’ sebagai bentuk ucapan syukur kepada Jubata (Tuhan) atas hasil panen padi tahun ini. Kegiatan yang berlangsung sukses ini menjadi ajang kebersamaan dan pelestarian budaya leluhur, Senin (20/04/2026).
Acara yang digelar di lokasi pusat kegiatan adat tersebut turut dihadiri oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M. Dalam sambutannya, Bupati mengapresiasi semangat masyarakat dalam menjaga kearifan lokal sekaligus mensyukuri berkah panen. “Tradisi ini bukan hanya ritual, tetapi juga wujud rasa syukur dan gotong royong yang harus terus kita jaga,” ujarnya.
Gawai berlangsung khidmat dan diramaikan dengan tarian adat, doa syukur bersama, serta santapan hasil bumi. Kegiatan ini sekaligus menjadi perekat sosial dan penguatan identitas budaya di tengah modernisasi. (Diskominfo Bengkayang/MR/RT)
Bengkayang – Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M., menghadiri kegiatan ritual adat di lokasi pembangunan PLTMH di Kecamatan Tujuh Belas. Kamis(02/04/26)
Kehadiran Bupati didampingi oleh Asisten II Bagian Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Bengkayang, Plt. Camat Sanggau Ledo, Camat Tujuh Belas, Kabag Prokopim, Kabag Ekonomi, serta turut hadir Bhabinkamtibmas Sanggau Ledo dan Babinsa Sanggau Ledo. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Desa Pisak, Kepala Desa Sinar Tebudak, serta para tokoh adat setempat.
Ritual adat tersebut dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal sekaligus sebagai upaya memohon agar konflik yang pernah terjadi di lokasi PLTMH tidak terulang kembali, serta seluruh proses pembangunan dapat berjalan aman dan lancar. (Prokopim Bengkayang)
Bengkayang – Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis,S.E.,M.M., bersama pengurus dan anggota Masyarakat Adat Budaya Jawa (MABJ) menggelar sarasehan di Taman Sekayok Damai Raya (SDR), Jumat (06/02/2026). Pertemuan akrab tersebut bertujuan mendengar langsung aspirasi serta mempererat sinergi antara pemerintah dan komunitas Jawa di Bengkayang.
Usai sarasehan, Bupati didampingi pengurus MABJ dan beberapa pejabat terkait langsung meninjau lokasi rencana pembangunan Rumah Joglo di kawasan Taman SDR. Rencananya, Joglo tersebut akan berfungsi sebagai pusat aktivitas, edukasi, dan pertunjukan budaya Jawa. (Diskominfo Bengkayang)
Bengkayang – Nyobeng adalah ritual adat suku Dayak Bidayuh Sebujit yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak tahun 2014 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ritual ini merupakan bentuk syukur kepada Jubata (Tuhan dalam kepercayaan Dayak) atas hasil panen dan permohonan perlindungan bagi masyarakat.
Prosesi Nyobeng melibatkan tarian tradisional, ritual adat oleh pemangku adat, serta prosesi unik lainnya diantaranya memanjat bambu secara terbalik. Uniknya, ritual ini juga menjadi sarana mempererat tali persaudaraan antarwarga dan mengenang jasa leluhur. Bagi suku Dayak Bidayuh, Nyobeng bukan sekadar acara seremonial, melainkan identitas yang mencerminkan kearifan lokal dan keseimbangan alam.
Yustianus, S.E., M.M, Sekretaris Daerah Kabupaten Bengkayang yang mewakili Bupati Bengkayang, membuka acara ritual adat Nyobeng atau Nyobekng di Kecamatan Siding, pada Minggu (15/06/2025) ini mengatakan dalam membacakan sambutan Bupati Bengkayang bahwa suku Dayak Bidayuh Sebujit merupakan salah satu subetnis Dayak yang bermukim di perbatasan Indonesia-Malaysia. Mereka dikenal dengan keahlian bertani dan kesetiaannya mempertahankan adat istiadat.
“Kita harus menunjukkan bahwa Dayak harus berdaulat, mandiri, dan berkepribadian dalam berbudaya. Jika orang menghilangkan budaya, maka akan kehilangan jati dirinya,” tegasnya.
Kegiatan yang dihadiri oleh berbagai pejabat daerah, tokoh adat, serta tamu undangan dari mancanegara, termasuk Inggris, Australia, Republik Rakyat China, dan Serawak Malaysia ini menekankan pentingnya melestarikan budaya tradisional di tengah derasnya arus modernisasi.
Pemerintah Kabupaten Bengkayang telah mengeluarkan sejumlah regulasi untuk memajukan kebudayaan, termasuk Perda Nomor 3 Tahun 2020 dan Perbup Nomor 64 Tahun 2020. Langkah ini diperkuat dengan pengembangan desa adat, pusat kuliner, dan destinasi wisata budaya untuk mendongkrak perekonomian masyarakat.
Namun, tantangan terbesar adalah menjaga minat generasi muda terhadap adat di era digital. Melalui acara Nyobeng, diharapkan muncul kesadaran kolektif untuk merawat warisan leluhur. “Miliki rasa cinta terhadap seni dan budaya yang diwariskan pendahulu. Dengan demikian, daerah ini akan kuat dan berkarakter,” Pesannya.
Ritual Nyobeng Sebujit tahun 2025,diiringi harapan agar tradisi ini tetap hidup dan menjadi kebanggaan nasional. Sebagai bagian dari kekayaan Nusantara, Nyobeng adalah bukti bahwa budaya lokal mampu bertahan sekaligus bersinergi dengan pembangunan modern. (Diskominfo Bengkayang/RT/NN)
Bengkayang – Kabupaten Bengkayang kembali menggelar acara budaya Gawai Sowa Dayak Bidayuh Kaum Bijagoi pada tanggal (03/05/2025) di Kampung Budaya Bijagoi. Acara ini dibuka secara resmi oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M. dengan dihadiri oleh Ketua dan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Ketua dan anggota DPRD Kabupaten Bengkayang, Forkopimda Kabupaten Bengkayang, para Pimpinan Tinggi Pratama Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Bengkayang, Ketua DAD Kabupaten Bengkayang, Camat Jagoi Babang, Ketua DAD Kecamatan Jagoi Babang, Kepala Desa Jagoi, serta masyarakat yang antusias meramaikan acara budaya ini.
Bupati Bengkayang menyoroti kekhawatiran akan hilangnya budaya lokal jika tidak dijaga dan diorganisir dengan baik. “Jangan sampai masyarakat adat kurang peduli dengan adat istiadat, bahkan melupakannya karena beralih ke budaya modern,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa Jagoi Babang sebagai pintu masuk terdekat dengan Sarawak, Malaysia, harus menunjukkan identitas Dayak yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian dalam berbudaya.
Dalam sambutannya, Bupati juga memaparkan sejumlah prestasi budaya yang telah diraih oleh Kabupaten Bengkayang. Salah satunya adalah pengakuan alat musik tradisional Silotuang sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2018. Selain itu, Desa Bung Kupuak dinobatkan sebagai Kampung Adat Terbaik se-Indonesia dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia tahun 2019. “Keberhasilan ini harus kita apresiasi bersama dengan membenahi tata kelola destinasi budaya dan pariwisata di daerah ini,” tambah Bupati.
Bupati juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memajukan kebudayaan, sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Ia mendorong generasi muda, khususnya yang tergabung dalam Komunitas Sanggar Bijagoi dan Kelompok Sadar Wisata (Pok Darwis), untuk terus mencintai dan melestarikan seni dan budaya warisan leluhur. “Melalui acara ini, kita harapkan masyarakat, terutama generasi muda, bisa bersatu, bangkit, dan tumbuh dengan rasa cinta terhadap budaya,” ucapnya menutup sambutan
Acara Gawai Sowa Dayak Bidayuh Kaum Bijagoi tahun ini diisi dengan berbagai pertunjukan seni tradisional, pameran kerajinan tangan, dan kuliner khas daerah jadi masyarakat dan pengunjung bisa merasa dekat dengan acara ini. (Diskominfo Bengkayang/LR/MR)
Meriahnya Penutupan Barape’ Sawa’ 2025: Kecamatan Sungai Betung Raih Juara Umum, Budaya Dayak Terus Dijaga.
Bengkayang – Acara penutupan festival budaya Barape’ Sawa’ Kabupaten Bengkayang tahun 2025 berlangsung meriah pada Sabtu malam (31/05/2025) di Ramin Bantang, Bengkayang. Event yang menjadi simbol syukur masyarakat Dayak Bakati’ atas hasil panen sekaligus penanda dimulainya musim tanam baru ini ditutup secara resmi oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, SE., MM., dengan pemukulan gong sebanyak tujuh kali. Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Ir. Florentinus Anum, M.Si., yang membacakan sambutan Gubernur Kalbar, Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H.
Pada puncak acara, diumumkan bahwa Kecamatan Sungai Betung berhasil meraih gelar Juara Umum dalam serangkaian perlombaan tradisional dan kesenian yang digelar selama event berlangsung. Prestasi ini menambah kebanggaan masyarakat setempat sekaligus menunjukkan komitmen generasi muda dalam melestarikan budaya leluhur. (Diskominfo Bengkayang/RT/NN)