Kearifan Dayak Bakati’: Ngarantek Sawa’ Bahu ke-10 Resmi Dibuka

Bengkayang – Pemerintah Kabupaten Bengkayang menegaskan komitmennya dalam menjaga, melestarikan, dan melindungi eksistensi adat istiadat lokal. Hal ini disampaikan langsung oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M., saat membuka secara resmi acara Ngarantek Sawa’ Bahu ke-10 Kecamatan Lumar Tahun 2026, yang berlangsung di Ramin Adat Banua Lumar pada Selasa (9/6/2026).

Acara adat tahunan yang mengusung tema “Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat” ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda, tokoh adat, serta berbagai elemen penting daerah. Di antaranya tampak hadir Wakil Bupati Bengkayang, Ketua DPRD Kabupaten Bengkayang, serta tokoh masyarakat adat terkemuka, Suryatman Gidot, M.Pd.

Dalam sambutannya, Bupati Sebastianus Darwis menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, lembaga adat, tokoh masyarakat, serta para donatur yang telah bergotong royong menyukseskan tradisi ini.

“Tema hari ini mengingatkan kita bahwa adat, budaya, dan kearifan lokal yang masih hidup hingga saat ini tidak dapat dipisahkan dari peran masyarakat adat yang terus menjaga, mewariskan, dan memeliharanya dari generasi ke generasi,” ujar Bupati.

@diskominfo_bengkayang

Kearifan Dayak Bakati’: Ngarantek Sawa’ Bahu ke-10 Resmi Dibuka Bengkayang – Pemerintah Kabupaten Bengkayang menegaskan komitmennya dalam menjaga, melestarikan, dan melindungi eksistensi adat istiadat lokal. Hal ini disampaikan langsung oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M., saat membuka secara resmi acara Ngarantek Sawa’ Bahu ke-10 Kecamatan Lumar Tahun 2026, yang berlangsung di Ramin Adat Banua Lumar pada Selasa (9/6/2026). Acara adat tahunan yang mengusung tema “Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat” ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda, tokoh adat, serta berbagai elemen penting daerah. Di antaranya tampak hadir Wakil Bupati Bengkayang, Ketua DPRD Kabupaten Bengkayang, serta tokoh masyarakat adat terkemuka, Suryatman Gidot, M.Pd. Dalam sambutannya, Bupati Sebastianus Darwis menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, lembaga adat, tokoh masyarakat, serta para donatur yang telah bergotong royong menyukseskan tradisi ini. “Tema hari ini mengingatkan kita bahwa adat, budaya, dan kearifan lokal yang masih hidup hingga saat ini tidak dapat dipisahkan dari peran masyarakat adat yang terus menjaga, mewariskan, dan memeliharanya dari generasi ke generasi,” ujar Bupati. Bagi Masyarakat Dayak Bakati’ Lumar, Ngarantek Sawa’ Bahu bukan sekadar rangkaian upacara adat biasa. Tradisi ini merupakan wujud nyata rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur. Bupati menambahkan bahwa hilangnya sebuah budaya bukan terjadi semata-mata karena perkembangan zaman, melainkan karena generasinya yang berhenti mengenal dan mempelajarinya. Oleh sebab itu, ruang pembelajaran seperti ini dinilai sangat vital bagi anak cucu di masa depan. “Kemajuan tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh karakter dan kearifan masyarakatnya. Melalui tradisi ini, kita belajar bahwa keberhasilan tidak dicapai sendirian, melainkan lewat semangat gotong royong dan saling menguatkan,” tambahnya. Selain sebagai pelestarian budaya pertanian Dayak yang lekat dengan alam, kegiatan ini juga menjadi momentum berharga untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan rasa bangga di kalangan generasi muda. Di akhir sambutan, Bupati Sebastianus Darwis secara resmi membuka kegiatan Ngarantek Sawa’ Bahu ke-10 ditandai dengan prosesi pemukulan gong sebanyak tujuh kali. Acara kemudian dilanjutkan dengan rangkaian ritual dan pawai kontingen yang diikuti antusias oleh masyarakat setempat.(Diskominfo Bengkayang/MR/RT) @Sebastianus Darwis @Anita Darwis

♬ suara asli – Kominfo_BkyOfficial – Kominfo_BkyOfficial

Bagi Masyarakat Dayak Bakati’ Lumar, Ngarantek Sawa’ Bahu bukan sekadar rangkaian upacara adat biasa. Tradisi ini merupakan wujud nyata rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur.

Bupati menambahkan bahwa hilangnya sebuah budaya bukan terjadi semata-mata karena perkembangan zaman, melainkan karena generasinya yang berhenti mengenal dan mempelajarinya. Oleh sebab itu, ruang pembelajaran seperti ini dinilai sangat vital bagi anak cucu di masa depan.

“Kemajuan tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh karakter dan kearifan masyarakatnya. Melalui tradisi ini, kita belajar bahwa keberhasilan tidak dicapai sendirian, melainkan lewat semangat gotong royong dan saling menguatkan,” tambahnya. (Diskominfo Bengkayang/MR/RT)