Bupati Bengkayang Buka Acara Maka’Dio ke-V di Desa Cipta Karya

Bengkayang – Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M., secara resmi membuka kegiatan Maka’Dio ke-V yang digelar di Desa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung, pada Senin (27/04/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung dengan nuansa adat yang kental dan dihadiri berbagai unsur pimpinan daerah serta masyarakat setempat.

Acara diawali dengan penyambutan Bupati beserta rombongan secara adat Dayak, dilengkapi tarian tradisional dengan properti bambu kuning . Suasana semakin khidmat saat seluruh hadirin bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Dalam rangkaian acara, Bupati Bengkayang membuka kegiatan secara simbolis melalui pemukulan gong. Selain itu, dilakukan pula pemasangan caping dan peneduhan sebagai simbol dimulainya kegiatan Maka’Dio ke-V.

Dalam sambutannya, Bupati Sebastianus Darwis menyampaikan apresiasi kepada panitia dan masyarakat Desa Cipta Karya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap Maka’Dio tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga mampu mempererat persatuan serta mendorong pembangunan daerah berbasis kearifan lokal.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Bengkayang Drs. H. Syamsul Rizal, Sekretaris Daerah Kabupaten Bengkayang, Ketua DPRD Kabupaten Bengkayang Ibu Maria Christy, anggota DPRD Lusia, unsur Forkopimda atau yang mewakili para kepala OPD, Camat Sungai Betung, Camat Lumar, Camat Teriak, Kepala Desa Cipta Karya, serta tokoh adat dan masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata dan sesi ramah tamah antara pemerintah daerah dan masyarakat, menandai komitmen bersama dalam menjaga tradisi dan memperkuat pembangunan di Kabupaten Bengkayang. (Diskominfo Bengkayang/MR/RT/NN)

Gawai Dayak Maka’ Dio’ Ke V, Desa Cipta Karya 2026

Sebuah momen istimewa untuk merayakan kekayaan budaya, mempererat persaudaraan, dan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Mari bersama hadir dan ambil bagian dalam semangat kebersamaan, gotong royong, serta kebanggaan sebagai masyarakat Bengkayang yang berbudaya dan berakar kuat pada tradisi.

#GawaiDayak#Bengkayang#KearifanLokal

—-

A special moment to celebrate cultural richness, strengthen brotherhood, and preserve ancestral heritage so it continues to thrive amid the changing times.

Let us come together and take part in the spirit of unity, mutual cooperation, and pride as the people of Bengkayang who are rich in culture and deeply rooted in tradition.

#GawaiDayak#Bengkayang #LocalWisdom

Gawai Dayak Maka’ Dio’ Ke V, Desa Cipta Karya 2026

Sebuah momen istimewa untuk merayakan kekayaan budaya, mempererat persaudaraan, dan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Mari bersama hadir dan ambil bagian dalam semangat kebersamaan, gotong royong, serta kebanggaan sebagai masyarakat Bengkayang yang berbudaya dan berakar kuat pada tradisi.

#GawaiDayak#Bengkayang#KearifanLokal

—-

A special moment to celebrate cultural richness, strengthen brotherhood, and preserve ancestral heritage so it continues to thrive amid the changing times.

Let us come together and take part in the spirit of unity, mutual cooperation, and pride as the people of Bengkayang who are rich in culture and deeply rooted in tradition.

#GawaiDayak#Bengkayang #LocalWisdom

Gawai Dayak Maka’ Dio’ Ke V, Desa Cipta Karya 2026

Sebuah momen istimewa untuk merayakan kekayaan budaya, mempererat persaudaraan, dan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Mari bersama hadir dan ambil bagian dalam semangat kebersamaan, gotong royong, serta kebanggaan sebagai masyarakat Bengkayang yang berbudaya dan berakar kuat pada tradisi.

#GawaiDayak#Bengkayang#KearifanLokal

—-

A special moment to celebrate cultural richness, strengthen brotherhood, and preserve ancestral heritage so it continues to thrive amid the changing times.

Let us come together and take part in the spirit of unity, mutual cooperation, and pride as the people of Bengkayang who are rich in culture and deeply rooted in tradition.

#GawaiDayak#Bengkayang LocalWisdom

Peletakan Batu Pertama Rumah Joglo Budaya Jawa di Kabupaten Bengkayang

Bengkayang – Pemerintah Kabupaten Bengkayang bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Joglo Budaya Jawa di Taman Sekayok Damai Raya (SDR), Kamis (23/04/2026).

Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M., didampingi Wakil Bupati Drs. H. Syamsul Rizal, menyampaikan bahwa rumah joglo ini akan menjadi pusat pelestarian budaya Jawa sekaligus simbol kerukunan antar etnis di Bengkayang.

“Ini bukti nyata bahwa Kabupaten Bengkayang menghormati seluruh budaya yang ada. Rumah Joglo akan berdiri berdampingan dengan budaya lainnya dikabupaten Bengkayang,” ujar Bupati.

Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, tokoh masyarakat Jawa yang ada di Kabupaten Bengkayang. (Diskominfo Bengkayang/MR/RT)

Warga Rangkang Gelar Gawai Ngate’ Kaja’ Pade’, Wujud Syukur atas Panen Raya

Bengkayang – Masyarakat adat Rangkang, Kabupaten Bengkayang, menggelar tradisi Gawai Ngate’ Kaja’ Pade’ sebagai bentuk ucapan syukur kepada Jubata (Tuhan) atas hasil panen padi tahun ini. Kegiatan yang berlangsung sukses ini menjadi ajang kebersamaan dan pelestarian budaya leluhur, Senin (20/04/2026).

Acara yang digelar di lokasi pusat kegiatan adat tersebut turut dihadiri oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M. Dalam sambutannya, Bupati mengapresiasi semangat masyarakat dalam menjaga kearifan lokal sekaligus mensyukuri berkah panen. “Tradisi ini bukan hanya ritual, tetapi juga wujud rasa syukur dan gotong royong yang harus terus kita jaga,” ujarnya.

Gawai berlangsung khidmat dan diramaikan dengan tarian adat, doa syukur bersama, serta santapan hasil bumi. Kegiatan ini sekaligus menjadi perekat sosial dan penguatan identitas budaya di tengah modernisasi. (Diskominfo Bengkayang/MR/RT)

Melestarikan Warisan Budaya: Ritual Nyobeng Sebujit di Tengah Modernisasi

Bengkayang – Nyobeng adalah ritual adat suku Dayak Bidayuh Sebujit yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak tahun 2014 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ritual ini merupakan bentuk syukur kepada Jubata (Tuhan dalam kepercayaan Dayak) atas hasil panen dan permohonan perlindungan bagi masyarakat.

Prosesi Nyobeng melibatkan tarian tradisional, ritual adat oleh pemangku adat, serta prosesi unik lainnya diantaranya memanjat bambu secara terbalik. Uniknya, ritual ini juga menjadi sarana mempererat tali persaudaraan antarwarga dan mengenang jasa leluhur. Bagi suku Dayak Bidayuh, Nyobeng bukan sekadar acara seremonial, melainkan identitas yang mencerminkan kearifan lokal dan keseimbangan alam.

Yustianus, S.E., M.M, Sekretaris Daerah Kabupaten Bengkayang yang mewakili Bupati Bengkayang, membuka acara ritual adat Nyobeng atau Nyobekng di Kecamatan Siding, pada Minggu (15/06/2025) ini mengatakan dalam membacakan sambutan Bupati Bengkayang bahwa suku Dayak Bidayuh Sebujit merupakan salah satu subetnis Dayak yang bermukim di perbatasan Indonesia-Malaysia. Mereka dikenal dengan keahlian bertani dan kesetiaannya mempertahankan adat istiadat.

“Kita harus menunjukkan bahwa Dayak harus berdaulat, mandiri, dan berkepribadian dalam berbudaya. Jika orang menghilangkan budaya, maka akan kehilangan jati dirinya,” tegasnya.

Kegiatan yang dihadiri oleh berbagai pejabat daerah, tokoh adat, serta tamu undangan dari mancanegara, termasuk Inggris, Australia, Republik Rakyat China, dan Serawak Malaysia ini menekankan pentingnya melestarikan budaya tradisional di tengah derasnya arus modernisasi.

Pemerintah Kabupaten Bengkayang telah mengeluarkan sejumlah regulasi untuk memajukan kebudayaan, termasuk Perda Nomor 3 Tahun 2020 dan Perbup Nomor 64 Tahun 2020. Langkah ini diperkuat dengan pengembangan desa adat, pusat kuliner, dan destinasi wisata budaya untuk mendongkrak perekonomian masyarakat.

Namun, tantangan terbesar adalah menjaga minat generasi muda terhadap adat di era digital. Melalui acara Nyobeng, diharapkan muncul kesadaran kolektif untuk merawat warisan leluhur. “Miliki rasa cinta terhadap seni dan budaya yang diwariskan pendahulu. Dengan demikian, daerah ini akan kuat dan berkarakter,” Pesannya.

Ritual Nyobeng Sebujit tahun 2025,diiringi harapan agar tradisi ini tetap hidup dan menjadi kebanggaan nasional. Sebagai bagian dari kekayaan Nusantara, Nyobeng adalah bukti bahwa budaya lokal mampu bertahan sekaligus bersinergi dengan pembangunan modern. (Diskominfo Bengkayang/RT/NN)